Meria Fitriwati

Nama Meria Fitriwati, S.Pd mengajar di MAN 3 Pesisir Selatan Sumatera Barat. Berasal dari Kamang Mudik Kab. Agam Sumatera Barat. Tamatan S1 Pendidikan Bahasa In...

Selengkapnya

Cintaku di Dunia Lain - part 6

#TantanganGurusiana

Tantangan Menulis hari ke 31

Karib kerabat yang jauh dan dekat serta tetangga sekitar rumah dan juga tetangga kampung sebelah berdatangan. Mereka semua ingin tahu keadaanku setelah satu Minggu tidak pulang. Hampir semua laki-laki di kampungku kabarnya ikut mencari keberadaanku.

Tidak itu saja, setelah usaha mencari keberadaanku tidak berhasil. Maka mau tidak mau, menggunakan jasa orang tua yang diakui ilmunya bisa membaca dan mengetahui keberadaan seseorang yang tidak ditemukan atau terlihat di alam nyata adalah sebuah solusi yang sering dimanfaatkan di kampungku. Ini sudah menjadi kebiasaan atau lumrah terjadi di kampung kami.

Kebanyakan dari bantuan orang tua yang diyakini mampu melihat kasat mata ini memang terbukti. Dia yang juga disebut dukun itu pada umumnya mampu memuaskan siapa saja yang minta pertolongan. Salah satu contohnya adalah keberadaanku. Kata kebanyakan masyarakat yang berkunjung melihatku, tempat dimana aku ditemukan adalah tempat yang paling sering dan banyak dijelajahi saat itu.

Namun, mereka tidak menemukan apapun, jangankan diriku, bekas tempat dilalui oleh orang saja tidak ada. Begitu banyak masyarakat menjelajahi tempat yang diyakini mungkin keberadaanku ada disana. Mereka tidak melihat apapun. Di hari pertama, kedua, ketiga tempat itu tidak lupa disinggahi oleh masyarakat namun tetap tidak menemukanku.

Akupun tidak melihat mereka ada yang datang untuk berkunjung atau menemuiku. Seandainya aku tahu, tentulah aku akan menjamu mereka dengan baik bak tamu raja yang terhormat. Sejak aku menjabat jadi raja tidak pernah sekalipun rakyatku berlaku jahat dan tidak baik pada tamu. Mereka diajarkan untuk menghargai tamu dan memperlakukannya dengan baik.

Pengangkatanku menjadi raja adalah hal yang sudah sepatutnya aku dapatkan karena memang semua rakyat disana menginginkan aku jadi raja. Sebenarnya tidak ada yang salah apakah aku harus tinggal bersama istriku sebagai raja atau pulang ke rumah sebagai anggota masyarakat biasa. Aku bisa melakukannya dengan baik. Namun, yang menjadi masalah besar adalah ketika semuanya datang dan merusak apa yang tertata rapi sebelumnya.

Jika kau menjelaskan apa yang sedang aku alami, semua merasa aneh dan tidak masuk akal. Menganggap aku tidak normal atau sedang terpengaruh. Entahlah, mungkin lebih baik diam daripada banyak bicara, tetapi dianggap aneh. Sekuat apapun aku menjelaskan tetap saja tidak ada yang mampu mencerna atau bahkan menerima penjelasanku. Malah banyak di antara mereka bilang bahwa aku harus kembali kepada diriku sendiri dan mengingat Allah SWT.

"Jangan lupa diri, ingatlah ada Allah yang maha melindungi kita," itu kebanyakan kata-kata yang kudengar dari tetangga ataupun pengunjung yang datang. Aku kembali terdiam. Mereka benar tidak bisa menerima keteranganku, ada apa dengan mereka. Atau benar aku yang aneh dan berkata tidak sepantasnya. Tapi itu nyata aku alami dan benar-benar aku rasakan dengan segenap kesadaranku.

Kamis, 27 Februari 2020 jam 23. 25 WIB oleh Meria Fitriwati

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post